Sikap Ahlus Sunnah
atas Kematian Jafar Umar Tholib dan Kaum yang Menyimpang
Di antara manhaj Ahlus Sunnah, mrk bersedih atas kematian seorang Ahlus Sunnah, sebagaimana halnya mrk bergembira dg sebab kematian ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang dari Sunnah, dan saat wafatnya orang-orang fasiq. Apalagi kalau yg meninggal adalah kaum kafir dan musyrikin, maka kita hrs bergembira atas kematiannya.
Kematian Ahli bid’ah membuat ahlu Sunnah bahagia, karena dengan kematiannya, mati pula bid’ah dan penyimpangannya, shingga manusia akan selamat dr bid’ahnya, atau minimal bid’ahnya berkurang dan tidak ada lagi yg membela dan mempertahankannya.
Hari ini, Ahad, 25 Agustus 2019, dengan meninggalnya Ja’far Umar Tholib, muncul sebuah sikap yang aneh dari sebagian Ahlus Sunnah yang berbelasungkawa dan bersedih atas meninggalnya Jafar Umar Thalib yg slama ini telah kita ketahui bersama akan penyimpangannya dari manhaj Ahlus Sunnah.
Sebagai nasihat bagi para ikhwan Ahlus Sunnah, ana ingin mengingatkan mereka melalui tulisan ini agar mereka tidak salah mengambil sikap dengan kematian Jafar Umar Thalib.
Kematian setiap muslim merupakan musibah bagi kaum muslim. Namun bukanlah sikap dan manhaj Ahlussunnah, menampakkan kesedihan atas meninggalnya seorang ahli bid’ah dan kaum yang menyimpang, bahkan justru dituntut untuk bergembira atas wafatnya salah seorang di antara tokoh bid’ah dan tokoh yg menyimpang!
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu-, ia berkata :
مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَجَبَتْ» ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: «وَجَبَتْ» فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: «هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ»
“Mereka (para sahabat) melewati sebuah jenazah, lalu memberikan pujian kebaikan baginya, seraya Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Telah tetap”.
Kemudian mereka melewati jenazah yg lain, lalu mereka memberikan persaksian keburukan baginya, seraya beliau bersabda, “Telah tetap”.
Kemudian Umar bin Khoththob –rodhiyallohu ‘anhu- bertanya, “Apa yg telah pasti?”
Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jenazah ini kamu berikan pujian kebaikan, maka telah tetap baginya surga. Jenazah yg lain ini kalian berikan persaksian keburukan, maka telah tetap baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi.”
HR. Al Bukhory (1367) dan Muslim (949)
Hadits ini menunjukkan kpd kita smua bhw para sahabat memberikan persaksian dan pujian kebaikan bagi seorang sahabat yg wafat, karena kebaikannya dikenal pada masa itu, dan tentunya saat kematian seorang yang baik akan melahirkn perasaan sedih dan belasungkawa.
Sementara itu, pada waktu yg sama juga para sahabat memberikan celaan kpd si jenazah yg satunya, karena mgk saat itu ia dikenal akan keburukannya, krn boleh jadi yg meninggal adalah munafik atau kafir. Nah, tentunya dengan kematian mrk, maka hal itu mewariskn perasaan bahagia bagi ahlus Sunnah.
Badruddin Al ‘Ainy Al Hanafy –rohimahulloh- brkata,
فَإِن قيل: كَيفَ يجوز ذكر شَرّ الْمَوْتَى، مَعَ وُرُود الحَدِيث الصَّحِيح عَن زيد بن أَرقم فِي النَّهْي عَن سبّ الْمَوْتَى وَذكرهمْ إلاَّ بِخَير. وَأجِيب: بِأَن النَّهْي عَن سبّ الْأَمْوَات غير الْمُنَافِق وَالْكَافِر والمجاهر بِالْفِسْقِ أَو بالبدعة، فَإِن هَؤُلَاءِ لَا يحرم ذكرهمْ بِالشَّرِّ للحذر من طريقهم، وَمن الِاقْتِدَاء بهم
“Jika ditanyakan, “Bagaimana bisa menyebutkn keburukan orang-orang mati, padahal telah datang hadits shohih dari Zaid bin Arqom ttg larangan mencela orang-org yg telah mati dan menyebut mereka, selain dg kebaikan?”
Maka hal ini dijawab : “Larangan tersebut adalah (larangan) dr mencela org-org mati yg bukan munafik, kafir, dan bukan pula org yg menampakkan kefasikan dan bid’ahnya. Maka mereka ini (golongan munafik, kafir dan yg menampakkan kefasikan dan bid’ahnya) tidak haram menyebutkan mereka dengan keburukan demi waspada trhadap jalan (manhaj) mereka dan wasapada agar jangan berteladan terhadap mereka.”
(‘Umdatul Qori. jld. 8, hlm. 195)
Saat kematian Al-Marisi (seorang ahli bid’ah yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk) ahlus Sunnah bergembira di hari kematiannya.
Hal itulah yg prnah dinyatakan oleh Bisyr bin Al-Harits Al Hafi (seorang ulama hadits dr kalangan ahlus Sunnah) di dalam sebuah atsar dr beliau.
Dari Bisyr bin Al Harits, ia brkata :
جاء موت هذا الذي يقال له: المريسي، وأنا في السوق، فلولا أنه كان موضع شهرة لكان موضع شكر وسجود، الحمد لله الذي أماته هكذا قولوا.
“Telah datang berita kematian orang yang bernama “Al Marisi”, sedangkan aku berada di pasar. Andaikn ia bukan tokoh terkenal (yakni, di tengah masyarakat dan pemerintah, -pen.), maka kematiannya adalah momen untuk bersyukur dan bersujud. “Segala puji bagi Allah Yg telah mematikannya”. Seperti ini hendaknya kalian ucapkan.”
(Tarikh Baghdad, jld. 7, hlm. 531, karya Al-Khothib)
Seorang ahli kalam dari kalangan Jahmiyyah yg brnama “Ibnu Abi Du’ad” telah meninggal dunia, maka ahlus sunnah berbahagia. Lalu ada yang menanyakan hal itu kpd Imam Ahmad bin Hambal –rohimahulloh- sebagaimana dalam atsar berikut :
قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: الرَّجُلُ يَفْرَحُ بِمَا يَنْزِلُ بِأَصْحَابِ ابْنِ أَبِي دُؤَادَ، عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ إِثْمٌ؟، قَالَ: «وَمَنْ لَا يَفْرَحُ بِهَذَا؟»
“Ditanyakan kepada Abu Abdillah (yakni, Imam Ahmad) : “Seseorang bergembira dengan sesuatu yg menimpa pengikut Ibnu Abi Du’ad, apakah ia berdosa?”
Beliau menjawab, “Siapa sih yang tidak bergembira dengan hal ini?!”.
(As-Sunnah, karya Al-Khollal, no. 1769)
Seorang tokoh Murji’ah yg bernama “Abdul Majid bin Abdil Aziz bin Abi Rowwad Al-Azdi” meninggal dunia, maka Abdur Rozzaq bin Hammam Ash-Sho’ani, Imam Ahlus Sunnah di masanya langsung mengucapkan pujian bagi Allah atas kematian Abdul Majid.
Salamah bin Syabib An-Naisabury –rohimahulloh- brkata :
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ الرَّزَّاقِ، فَجَاءنَا مَوْتُ عَبْدِ المَجِيْدِ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ سِتٍّ وَمائَتَيْنِ، فَقَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرَاحَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مِنْ عَبْدِ المَجِيْدِ
“Aku pernah di sisi Abdur Rozzaq, lalu datang kpd kami berita kematian Abdul Majid, dan itu terjadi pada tahun 206. Maka beliau (Abdur Rozzaq) berkata: “Segala puji bagi Allah Yang telah menyelamatkan ummat Muhammad dari Abdul Majid.”
(Siyar A’lam An-Nubala’ jld. 9, hlm. 435)
Demikian pula Ahlus Sunnah bergembira dengan meninggalnya seorang yang menyimpang dan berusaha merusak agama ini.
Karena itulah, ketika matinya seorang yang brnama “Abul Bakhtary Wahb bin Wahb Al-Qurosyi” (seorang pendusta yg suka memalsukan hadits), maka Ahlussunnah amat brbahagia dengan meninggalnya. Tokoh Ahlus Sunnah, Al Imam Abdur Rohman Ibnul Mahdi amat bahagia mendengarkan kematiannya.
Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al Asqolani brkata :
وقال ابن الجارود: كذاب خبيث كان عامة الليل يضع الحديث...
ولما بلغ ابن المهدي موته قال: الحمد لله الذي أراح المسلمين منه.
“Ibnul Jarud brkata : “Dia adalah tukang dusta yang busuk. Dulu pada seluruh malamnya ia gunakan membuat hadits palsu.”
Tatkala kematiannya sampai kpd Ibnul Mahdi, maka beliau brkata: “Segala puji bagi Allah Yang telah menyelamatkan kaum muslimin darinya.”
(Lisan Al-Mizan, jld. 8, hlm. 402)
Al Hasan bin Shofi bin Bazdan At-Turkiy adalah seorang penguasa Syiah-Rofidhoh yang amat keji dan fanatik terhadap kesesatannya, serta amat benci kpd Ahlus Sunnah.
Ketika ia binasa, maka Ahlus Sunnah amat bergembira dengan kabar kematiannya.
Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi berkata :
أَرَاحَ اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ مِنْهُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ فِي ذِي الْحِجَّةِ مِنْهَا، وَدُفِنَ بِدَارِهِ
ثُمَّ نُقِلَ إلى مقابر قريش فلله الحمد والمنة.
وحين مات فرح أهل السنة بموته فرحاً شديداً، وأظهروا الشكر لله، فلا تجد أحداً منهم إلا يحمد الله، فغضب الشيعة من ذلك
“Allah menyelamatkan kaum muslimin darinya di tahun ini, pada Bulan Dzulhijjah, dan ia dikebumikan di dalam rumahnya. Kemudian (setelah itu), ia dipindahkan ke Pemakaman Quraisy. Segala puji dan karunia bagi Allah.
Ketika ia (Al-Hasan bin Shofi) meninggal dunia, maka Ahlussunnah bergembira dengan kematiannya dengan kegembiraan yg amat besar, dan menampakkan kesyukuran mereka kepada Allah. Engkau tidak mendapati salah seorang diantara mrk, melainkan ia memuji Allah. Akhirnya orang-orang Syiah berang karenanya.”
(Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 12, hlm 338)
Dari nukilan-nukilan atsar ini, tampak bagi kita sikap Ahlus Sunnah saat mendengarkan kematian Ahli bid’ah, dan orang-orang yg menyimpang. Ahlus Sunnah menampakkan kebencian kpd Ahli bid’ah dan kaum yg menyimpang serta berbahagian dengan kematian mrk.
Sikap ini amat jauh berbeda dengan sikap sebagian ahlu sunnah di zaman ini.
Sebagai contoh, di saat wafatnya Jafar Umar Tholib, maka sebagian org yg mengaku ahlus sunnah justru bersedih dengan meninggalnya Jafar Umar Thalib yg dikenal telah melakukan penyimpangan besar dari manhaj salaf.
Dialah yg menggiring Ahlus Sunnah pada masanya kpd penyimpangan dengan pembentukan Laskar Jihad, yg kemudian melakukan demonstrasi dan praktik jihad yg keluar dari manhaj Ahlus Sunnah.
Senin, 26 Agustus 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 48)
Jangan Memberikan Komentar Jika Foto Anda Menggunakan Gambar Makhluk Atau Komentar Anda Mengandung Unsur Smiley !