🔰|| ﷽ ||🔰JUMAT | 30 MUHARRAM | 1439 H
__________________________
●┈»•✽ஜ۩۞۩ஜ✽•«̶┈●
TINGKATAN² MANUSIA KETIKA DITIMPA MUSIBAH
والناس حال المصيبة على مراتب أربع:
Manusia pada keadaan ditimpa musibah terbagi menjadi 4 tingkatan:
❶.》الأولى: التسخط: وهو إما أن يكون بالقلب، كأن يسخط على ربه، ويغضب على قدر الله عليه، وقد يؤدي إلى الكفر، قال تعالى: {ومن الناس من يعبد الله على حرف فإن أصابه خير اطمأن به وإن أصابته فتنة انقلب على وجهه خسر الدنيا والآخرة} ، [الحج: من الآية١١] ، وقد يكون باللسان; كالدعاء بالويل والثبور وما أشبه ذلك، وقد يكون بالجوارح; كلطم الخدود، وشق الجيوب، ونتف الشعور، وما أشبه ذلك.
①.》Murka: adakalanya didalam hati, seperti dia murka pada Rabb-nya, dan marah atas ketetapan Allah ﷻ, dan terkadang hal ini mengantarkan kepada kekufuran, Allah ﷻ berfirman, "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata".[Qs. at-Taubah:11]. Dan adakalanya dengan lisannya, seperti mendoakan kecelakaan dan kebinasaan dll;
❷.》الثانية: الصبر، وهو كما قال الشاعر:
الصبر مثل اسمه مر مذاقته ... لكن عواقبه أحلى من العسل
فيرى الإنسان أن هذا الشيء ثقيل عليه ويكرهه، لكنه يتحمله ويتصبر، وليس وقوعه وعدمه سواء عنده، بل يكره هذا ولكن إيمانه يحميه من السخط.
②.》Bersabar: sebagaimana perkataan seorang penyair, "Sabar seperti namanya, pahit rasanya .. namun akibatnya lebih manis daripada madu". Maka seseorang (pada awalnya) merasakan sesuatu tersebut berat dan ia membencinya, namun dia menanggung beban tersebut dan tetap bersabar, bukannya ada tidaknya hal itu sama saja disisinya, bahkan ia membenci hal itu namun keimanannya tetap terpelihara dari sifat murka;
❸.》الثالثة: الرضا، وهو أعلى من ذلك، وهو أن يكون الأمران عنده سواء بالنسبة لقضاء الله وقدره وإن كان قد يحزن من المصيبة; لأنه رجل يسبح في القضاء والقدر، أينما ينزل به القضاء والقدر فهو نازل به على سهل أو جبل، إن أصيب بنعمة أو أصيب بضدها; فالكل عنده سواء، لا لأن قلبه ميت; بل لتمام رضاه بربه - سبحانه وتعالى - يتقلب في تصرفات الرب (ولكنها عنده سواء; إذ إنه ينظر إليها باعتبارها قضاء لربه، وهذا الفرق بين الرضا والصبر.
③.》Ridha terhadap musibah: dan ini tingkatan lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua hal (ada tidaknya musibah) disisinya ia bersikap sama saja dengan menyandarkan kepada ketetapan Allah ﷻ dan takdir-Nya, meskipun terkadang ia merasa sedih karena musibah tersebut; dia adalah seseorang yang tetap bertasbih pada setiap ketetapan dan taqdir Allah ﷻ , dimanapun turun dengannya ketetapan dan taqdir Allah ﷻ maka iapun turun dengan mudahnya, ketika mendapatkan nikmat atau sebaliknya; maka sama saja disisinya, tidak lantas hatinya mati; bahkan ia menyempurnakan sifat ridhanya kepada Rabb-nya (walaupun kadang) berubah-ubah dalam menyikapi namun sama saja disisinya; tatkala ia melihat dan mempertimbangkannya sebagai ketetapan milik Rabb-nya, inilah perbedaan antara ridha dan sabar;
❹.》الرابعة: الشكر، وهو أعلى المراتب، وذلك أن يشكر الله على ما أصابه من مصيبة، وذلك يكون في عباد الله الشاكرين حين يرى أن هناك مصائب أعظم منها، وأن مصائب الدنيا أهون من مصائب الدين، وأن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة، وأن هذه المصيبة سبب لتكفير سيئاته، وربما لزيادة حسناته شكر الله على ذلك، قال النبي ﷺ: "ما يصيب المؤمن من هم ولا غم ولا شيء إلا كفر له بها، حتى الشوكة يشاكها" أخرجه البخاري .
كما أنه قد يزداد إيمان المرء بذلك.
📖القول المفيد على كتاب التوحيد/ص442.
④.》Bersyukur: ini tingkatan paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah ﷻ terhadap musibah yang menimpanya, yang demikian terdapat pada hamba² Allah ﷻ yang bersyukur ketika itu ia memandang bahwa disana ada musibah² yang lebih besar daripada yang ia alami, dan bahwasanya musibah² dunia lebih mudah daripada musibah² agama, dan bahwasanya siksaan dunia lebih ringan daripada siksaan akherat, dan bahwasanya musibah ini merupakan sebab terhapusnya dosa²nya, dan boleh jadi sebagai tambahan kebaikan baginya, ia bersyukur kepada Allah ﷻ akan hal itu, Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah ada suatu musibahpun yang menimpa seorang muslim, baik keletihan atau sakit atau kesedihan atau kegelisahan atau gangguan atau gundah gulana bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah akan menjadikan hal itu sebab untuk menghapus dosa-dosanya".[HR.Bukhory]. Seperti halnya akan bertambah keimanan seseorang dengan hal tersebut.
___________________________
👤al-'Allamah ibnu Utsaimin rahimahullah
📚 [(al-Qoulul Mufid 'ala kitaabit Tauhid, hal.442)]
🇲🇨🖊Mutarjim: @ahan1f -غفره الله وحفظه-
════ ❁✿❁ ═════════════════
💬 Telegram ¶ @infommskendari
Kamis, 19 Oktober 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 48)
Jangan Memberikan Komentar Jika Foto Anda Menggunakan Gambar Makhluk Atau Komentar Anda Mengandung Unsur Smiley !