🔰|| ﷽ ||🔰SABTU | 11 DZULHIJJAH | 1438 H
____________________________
●┈»•✽ஜ۩۞۩ஜ✽•«̶┈●
📎HUKUM KURBAN MATI ATAU DIHILANGKAN SEBELUM DISEMBELIH
▪ الســ↶ـؤال:
عزمت على الأضحية هذا العام من خلال المسجد التابع للجمعية الشرعية ، فاشتركت مع آخرين في عجل بنصيب فرد من ستة أفراد ، وتم دفع المال للجمعية الشرعية 2000 جنيها ، وقاموا بشراء الأضاحي ، وخصصوا لكل مجموعة مشتركين الأضحية الخاصة بهم تبعا للأعداد المشتركة ، أضحية لكل خمسة أفراد أو ستة أو سبعة حسب الاتفاق المسبق ، ولكن قبل فجر العيد بساعة مات العجل المعد للأضحية الخاص بي ولم أسترد أي مال ؛ لأني قد اشتريت الأضحية وماتت بعد الشراء وقبل النحر ، فقمت بالبحث عن أضحية أخرى فذبحت شاة ثمنها 1000 جنيه.
أولا ما الصواب الواجب عمله في هذه الحالة ؟ ثانيا: هل يعد هذا الحرمان من الخير عقوبة أصابتني لذنوبي؟
▪ الجــ↶ـواب:
الحمد لله
1- إذا عيّن الإنسان الأضحية ثم ماتت بغير تفريط منه ولا تعدٍ فلا شيء عليه .
قال ابن قدامة رحمه الله في "المغني" (9/353) :
" فَإِنْ تَلِفَتْ الْأُضْحِيَّةُ فِي يَدِهِ بِغَيْرِ تَفْرِيطٍ , أَوْ سُرِقَتْ , أَوْ ضَلَّتْ , فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ ; لِأَنَّهَا أَمَانَةٌ فِي يَدِهِ , فَلَمْ يَضْمَنْهَا إذَا لَمْ يُفَرِّطْ كَالْوَدِيعَةِ " انتهى . وينظر: "الإنصاف" للمرداوي (4/71) .
2- فإن أتلفها هو أو غيره ضمن المتسبب في التلف قيمتها أو بدلها .
قال ابن قدامة رحمه الله في "المغني" (9/352) :
" إذَا أَتْلَفَ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ , فَعَلَيْهِ قِيمَتُهَا ; لِأَنَّهَا مِنْ الْمُتَقَوِّمَاتِ , وَتُعْتَبَرُ الْقِيمَةُ يَوْمَ أَتْلَفَهَا " .
فإذا تبين ذلك : فلا يلزمك شيء ، لأنك لم تتلف الأضحية ، ولم تفرط في حفظها .
وأما ما ذبحته بعد ذلك بنية الأضحية ( الجدي ) فهو أمر طيب ، تؤجر عليه إن شاء الله ، ولم يكن يلزمك أن تذبح بدلها ، لكن ما دمت قد فعلت فهو تطوع , وزيادة خير منك ، إن شاء الله .
وليس في موت أضحيتك ما يدل على أن ذلك نوع من الحرمان ، أو العقاب الإلهي لك ، أو شيء من ذلك ، بل من يدري : لعله ابتلاء تؤجر عليه ، مع ما سبق من سعيك إلى عمل الخير، ثم تقدير الله لك أن تذبح أضحية أخرى بدل التي تلفت ، وهذا كله زيادة خير وبر لك إن شاء الله .
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :
" والْإِرَادَةُ الْجَازِمَةُ إذَا فَعَلَ مَعَهَا الْإِنْسَانُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ كَانَ فِي الشَّرْعِ بِمَنْزِلَةِ الْفَاعِلِ التَّامِّ : لَهُ ثَوَابُ الْفَاعِلِ التَّامِّ وَعِقَابُ الْفَاعِلِ التَّامِّ الَّذِي فَعَلَ جَمِيعَ الْفِعْلِ الْمُرَادِ حَتَّى يُثَابَ وَيُعَاقَبَ عَلَى مَا هُوَ خَارِجٌ عَنْ مَحَلِّ قُدْرَتِهِ مِثْلَ الْمُشْتَرِكِينَ والمتعاونين عَلَى أَفْعَالِ الْبِرِّ " .
انتهى من "مجموع الفتاوى" (10 /722-723) وينظر أيضا : "مجموع الفتاوى" (23 /236) .
نسأل الله أن يتقبل منك ومن جميع المسلمين .
والله أعلم .
•┈•┈┈•◈✹❒📚❒✹◈•┈•┈┈•
۞Pertanyaan:
Hukum Kurban Mati Sebelum Disembelih
Saya berkeinginan kuat berkurban tahun ini lewat masjid yang ikut dengan lembaga sosial. Maka saya ikut bergabung dengan orang lain untuk membeli sapi dengan bagian satu dari enam orang. Setelah selesai membayar dana ke lembaga sosial 2000 Junaih mereka membeli untuk kurban. Dan dikhususkan setiap kelompok yang bergabung kurban sesuai dengan kelompoknya. Kurban untuk lima, enam atau tujuh orang sesuai dengan kesepakatan terdahulu. Akan tetapi sebelum fajar hari raya, sapi yang disiapkan kurban khusus untukku mati dan saya tidak mendapatkan kembalian dana apapun. Karena saya telah membeli hewan kurban dan mati setelah pembelian sebelum fajar. Maka saya mencari hewan kurban lain dan saya menyembelih kambing seharga 1000 Junaih.
Pertanyaannya adalah pertama, apa yang benar dan seharusnya dilakukan dalam kondisi seperti ini.
Kedua, apakah ini termasuk terhalangi dari kebaikan sebagai hukuman karena dosa-dosaku?
۞Jawaban:
Alhamdulillah,
1.》 Kalau seseorang telah menentukan hewan kurbannya kemudian mati tanpa menyia-nyiakan dan tidak melampau batas darinya, maka tidak terkena apa-apa. Ibnu Qudamah rahimahullah dalam ‘Al-Mugni, (9/353) mengatakan,
“Kalau hewan kurbannya mati di tangannya tanpa menyia-nyiakan atau dicuri atau tersesat, maka dia tidak terkena apa-apa. Karena ia termasuk amanah di tangannya. Maka tidak menanggungnya selagi tidak meremehkan seperti barang titipan.” Selesai silahkan melihat di ‘Al-Insof karangan Mardawaih, (4/71).
2.》 Kalau dihilangkan baik dia atau orang lain, maka orang yang menghilangkan yang menanggung harga atau pengantinya. Ibnu Qudamah rahimahullah dalam ‘Al-Mugni, (9/352) mengatakan,
“Kalau dia menghilangkan hewan kurban yang wajib, maka (dia harus mengganti) harganya karena ia termasuk yang dihargai. Dan patokan harganya waktu hilangnya.
Jelas bagi anda akan hal itu, maka anda tidak terkena apa-apa. Karena anda tidak menghilangkan hewan kurban. Dan tidak menyia-nyiakan dalam menjaganya.
Sementara apa yang anda sembelih setelah itu dengan niatan kurban, maka itu termasuk suatu hal yang bagus. Akan diberi pahala insyaallah. Dan anda tidak diharuskan menyembelih sebagai penggantinya. Selagi anda telah melakukannya, maka itu termasuk sunah dan tambahan kebaikan bagi anda insyaallah.
Kematian hewan kurban anda, hal itu tidak menunjukkan sesuatu yang terhalangi. Atau siksaan Allah untuk anda. Atau semisal itu. Bahkan siapa yang tahu kalau hal itu mungkin cobaan yang anda akan mendapatkan pahala darinya. Disertai dengan apa yang telah anda lakukan dari kebaikan kemudian takdir Allah kepada anda dengan menyembelih hewan kurban lainnya sebagai ganti dari yang mati. Ini semua termasuk tambahan kebaikan dan bakti anda insyaAllah.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
“Keinginan kuat kalau seseorang melakukannya disertai dengan apa yang ditakdirkannya. Maka dalam agama, posisinya seperti pelaku sempurna dia akan mendapatkan pahala yang sempurna. Dan balasan pelaku secara sempurna yang dilakukan semua amalan yang diinginkan sampai diberi pahala atau dibalas atas apa yang keluar dari kemampuannya seperti orang yang ikut serta dan orang yang membantu dalam melakukan kebaikan.”
Selesai dari ‘Majmu Fatawa, (10/722-723) silahkan dilihat juga pada (23/236)
Kita memohon kepada Allah semoga Allah menerima anda dan seluruh umat Islam.
Wallahu a’lam.
______________________________
📚Fatawa Lajnah ad Daaimah jilid 8 hal. 179
🌐https://islamqa.info/ar/109323
🇲🇨🖊Mutarjim: @ahan1f -حفظه الله-
════ ❁✿❁ ═════════════════
🌍 Web ¶ infobiskajian.blogspot.com
💬 Telegram ¶ @infommskendari
🔃 Join ¶ goo.gl/u3aQD1
Senin, 04 September 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 48)
Jangan Memberikan Komentar Jika Foto Anda Menggunakan Gambar Makhluk Atau Komentar Anda Mengandung Unsur Smiley !